.:Ketika Hati Berteriak:. .:Ketika Hati Berteriak:.

Wednesday, September 30, 2009

none

aku kehabisan kata!

Posted by al IkhlaS at 11:21 PM

|

Saturday, May 09, 2009

dan...


mentari belum selesai terbenam, lembayungnya masih membayang jauh
tapi seekor kupu-kupu tua, mengering bersama derai ranting-ranting cemara

Posted by al IkhlaS at 10:14 PM

|

Monday, May 04, 2009

Ode Ujung Barat


aku ingin bicara
tapi mati rasa
kalimatku hanyalah adagium-adagium berbatu
yang disapu kabut
maknanya mental, melayang dan menari
bersama debu kamar

aku ingin berlari
tapi hilang asa
kakiku belum habis cicilannya
masih ada setengah juta dera
yang harus kubayar,
menekan titik-titik langkahku yang nelangsa

aku ingin bernafas
tapi habis masa
demi ode yang hentakannya paling keras!
aku kehabisan udara didada
yang tersisa hanya kapur, sisa
rampasan keringat tadi malam

satu rima, tanpa makna
itulah hidupku

kota tua, MayDay 2009

Posted by al IkhlaS at 8:39 PM

|

Tuesday, April 14, 2009

Kahlil Gibran's

Sang Nabi

Seorang Ahli Hukum menyusul bertanya:
Dan bagaimana tentang Undang-undang kita?

Dijawabnya:
Kalian senang meletakkan perundang-undangan,
Namun lebih senang lagi melakukan pelanggaran.

Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai
Yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara
Kemudian menghancurkannya sendiri, sambil gelak tertawa ria.

Tapi, selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu
Sang Laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,
Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu
Sang Laut pun turut tertawa bersamamu.
Sesungguhnyalah, Samudra senantiasa ikut tertawa
Bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudra,
Dan melihat undang-undang buatannya sendiri,
bukan sebagai menara pasir?
Merekalah yang memandang kehidupan laksana sebungkal batu karang,
Dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
Menurut selera manusia, sesuai hasrat kemauan?

Bagaimana dia, si pincang yang membenci para penari?

Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
Dan mencemooh kijang, menjangan, menamakannya hewan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua, yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
Dan karenanya menyebut semua ular lain telanjang, tak kenal susila?

Ada lagi dia, yang paling pagi mendatangi pesta,
suatu peralatan perkawinan,
Kemudian setelah terlalu kenyang perutnya,
dengan badan letih kecapaian,
Meninggalkan keramaian dengan umpatan,
Menyatakan segala pesta sebagai pelanggaran,
Dan semua peserta pelanggar hukum belaka.

Apalah yang akan kukatakan tentang mereka,
Kecuali bahwa mereka memang berdiri di bawah sinar mentari
Namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
Dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.

Apakah arti Sang Surya bagi mereka, selain sebuah pelempar bayangan?
Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
Selain terbongkok dan melata di atas tanah,
Mencari dan menelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau, yang berjalan menghadapkan wajah ke arah matahari,
Bayangan apa di atas tanah, yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu
Hukum mana yang mengikatmu, bila kaupatahkan pikulanmu,
Tanpa memukulkannya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kautakuti, jikalau kau menari-nari,
Tanpa kakimu tersandung belenggu orang lain?
Dan siapakah dia yang dapat menuntutmu,
Bila kau mencampakkan pakaianmu,
Tanpa melemparkannya di jalan orang lain?

Rakyat Orphalese, kalian mungkin mampu membungkam genderang,
Dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
Namun katakan siapakah yang dapat menghalangi,
Burung pipit untuk bernyanyi?

Posted by al IkhlaS at 7:59 PM

|

Tuesday, April 07, 2009

Hujan



Hujan masih rintik
Ketika lelah kami bersandar dibatas takdir
Pundak-pundak yang terkoyak,
tangan-tangan yang remuk,
urat nadi yang pecah
dikalahkan kejammnya guntur yang mengamuk
padahal hujan masih rintik malam itu

hujan masih rintik
ketika darah-darah kami memerahkan rinainya
tidak saga, hanya jingga
tapi beribu pekik menggelegar dikaki langit
menembus awan kelabu yang menggantung dimata purnama
dan ketika tirai langit dibuka,
awan-awan berkilat menangis di muara bumi

hujan masih rintik
ketika nyali kami ditusuk dari empat penjuru mata angin,
digoyah sangarnya teriakan halilintar
kilatnya membiaskan mata-mata kami
menyumpal mulut-mulut kami
menambal telinga-telinga kami
tapi membuka lebar perut-perut lapar kami

padahal, hujan masih rintik malam itu

Darussalam, Medio April 2009

Posted by al IkhlaS at 9:44 PM

|

Thursday, March 26, 2009

Laskar Edelweiss...

Next Destination....



Mount Dempo...

Posted by al IkhlaS at 8:09 PM

|

Friday, March 20, 2009

BEGHHHH!!!!

"...
Bagiku hidup adalah kuasa
Mencengkeram erat, menikam denyut harap
Buyar dalam retakan diujung hasrat
Ego adalah jantungnya dan serakah adalah nafasnya"
(Hidup, Januari 2009)



AGH!!! Kenapa kepala saya harus sekeras ini!?

Posted by al IkhlaS at 5:47 AM

|